Virus-virus yang membawa pelbagai penyakit berbahay yang bias memudaratkan kesehatan, kita kenal, namun terkadang tak kenal pada virus yang lebih berbahaya, yang menjangkiti kesehatan hati.
Sifat-sifat keji yang bersarang di hati, bukan saja merusakkan ibadah, bahkan juga mengganggu pergaulan sesame suami siteri, tetangga, rekan taulan dan saudara.
1. EGO DAN SOMBONG
Berpangkat, cantik, tampan rupawan, atau mempunyai harta berlimpah ruah. Boleh jadi juga mahir dalam bidang tertentu. Merasakan diri tidak setaraf dengan mereka berpangkat rendah, buruk rupa, atau tidak mempunyai apa-apa kelebihan. Harga diri ternoda bila terpaksa duduk semeja atau dekat dengan mereka.
Biar panas membakar atau hujan mendera di padang luas, naik mobil sendirian tenang biarpun Nampak para penjalan kaki tubuhnya miring 45 derajat hampir roboh.
Haya saat macet atau mogok meminta mereka bantu dorong. Kemudian melaju tanpa salam.
2. PEMARAH
Naik darah adalah salah satu tanda dijangkiti penyakit pemarah, pantang ada yang kurang menyenangkan hati atau terganggu perasaan, mulailah hati terasa terbakar.
Piring gelas tak berdosa dibentur ke tembok, yang mesti saja hancur. Pohon tak punya salah apa-apa ditendang. Apa pula kesalahan si pintu rumah itu dibanting sekuat tenaga. Semua orang pula dikiranya pekak, semaunya teriak-teriak. Buruk nian hati dan muka si pemarah.
3. HASAD DENGKI
Tidak hidup senang melihat kejayaan orang lain. Kegembiraannya hanyalah bila orang itu ditimpa kesusahan.
Harta melimpah yang didapat dari peluh keringat bekerja baik-baik di katainya “uang panas”. Mobil dibeli dari simpanan tabungan bertahun-tahun di bilang “paling kreditan”. Ratusan kali melamar kerja tak pernah keterima, saat dapat kerjaan dituduh pula “kalau gak menyuap pasti jual harga diri”. Buruk semua tak ada yang baik.
Allah menentukan takdir seseorang dengan pemberian yang berbeda-beda. Jika ada kelebihan pada sudut tertentu pada seseorang, maka sudah pasti ada juga kelehannya yang tertentu. Begitu juga sebaliknya. Bersyukur dengan apa yang ada pada diri.
4. DENDAM
Tidak puas hati terhadap seseoarang hingga timbul niat mau menyakiti atau membalas perbuatan yang dilakukan. Peransaan dendam merusak hidup bermasyarakat buka saja dengan orang didendami bahkan orang-orang yang akrab dengannya.
Memberikan maaf adalah penawar mujarab penyakit ini.
5. BURUK SANGKA
Sangkaan buruk kepada orang lain yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Mungkin apa yang disangka, menyimpang terlalu jauh dari keadaan sebenarnya. Penyakit ini menimbulkan fitnah dan mengundang perasaan marah serta dendam orang lain. Buruk sangka dihindari dengan membisikan sangkaan-sangkaan baik.
6. BAKHIL
Terlalu berhitungan dengan orang lain. Jangankan bersedakah atau member i hadiah, hendak member i hutangpun susah.
Bias juga diri sudut ilmu, pengetahuan yang ada susah hendak diajarkan kepada orang lain. Takut orang lain lebih pintar. Orang yang pandai berdagang dengan tenang terus menumpuk kekayaan. Biar melihat sekliling nganggur bingung mau kerja apa. Usahlah sampai meminjami modal, menularkan ilmunyapun tidak.
Mobil mewah berderet di garasi, giliran mati pakai mobil sewa ambulan. Tanah berhektar-hektar, saat mati pula pakai tanah kuburan umum yang sudah penuh sesak. Biarpun tak terasa andai sepetaknya direlakan buat tanah pemakaman biar yang lain juga dapat tempat.
Maha benar Allah, manusia suka berbanyak-banyak kekayaan, manusia suka menumpuk dan menghitung hitung harta, sampai kapan? Sampai saat diri masuk lubang kubur. Datang kesadaran, datang penyesalan, tak berguna lagi.
Bakhil berarti tidak amanah dengan Allah. Bersifat pemurah dan senantiasa memenuhi hajat orang lain, Allah akan menolong memenuhi hajat diri.***
Virus dan penyakit berbahaya yang tidak asing. Bayak ada dan terjadi di sekitar kita melihatnya. Orang-orang lain yang dapat melihat, menyaksikan dan menilai karakter-karakter tersebut pada seseorang. Karena penyakit itu tidak Nampak. Orang yang tertimpa sering tidak merasakannya. Yang bakhil tidak merasakan dirinya bakhil. Yang sombong tidak meraksakan dirinya sombong. Yang hasad, dengki, pemarah pula tidak merasakan dirinya seperti itu***
Bila ada waktu coaba tanya diri, adakah saya sombong, bakhil, hasad, pemarah…? Jawabannya mungkin sama “saya tidak seperti itu..!”